Mengapa Kaka Pindah?


Mengapa Kaka bisa pindah ke Real Madrid? Setidaknya ada 3 hal utama yang menjadi pemicu, sekaligus sebagai alarm bahwa eksodus Kaka mungkin hanyalah puncak gunung es.

CALCIOPOLI
Finansial Milan kolaps mulai peristiwa Calciopoli di awal tahun 2006. Milan kemudian dinyatakan terlibat dan terkena hukuman degradasi ke Serie B plus membayar sejumlah denda. Tapi akhirnya Milan hanya dikenai sejumlah denda dan posisi melorot ke urutan 4 dengan pengurangan nilai. Celah ini tak pernah diungkit dan seolah sudah habis. Namun imbasnya baru terkuak saat ini.

Pasca calciopoli, finansial Milan melorot drastis, meski musim berikutnya mampu meraih gelar juara Liga Champions. Gelar juara Liga Champions sejatinya selalu beriringan dengan fee tampil dan prize money besar. Namun pasca juara, Milan pasif dan tak bergerak sama sekali di bursa transfer untuk meremajakan skuad (hanya berhasil menggaet Pato). Pertanyaannya, kemana uang hasil jerih payah di Liga Champions? Bisa ditilik balik tahun sebelumnya, Milan sukses menjual Andriy Shevchenko ke Chelsea sejumlah 30 juta pounds. Pengganti Sheva, however, hanya Ricardo Oliveira yang bernilai kurang dari separuhnya. Sisanya kemana?

Ini berarti ada banyak undertable money yang dikeluarkan Galliani, untuk membebaskan dirinya, dan Milan dari konsekuensi hukuman yang sangat berat akibat calciopoli. Milan lolos dengan membayar sejumlah uang, dan masih bisa berlaga di Liga Champions 2006/2007. Effort "pembersihan diri" itu ternyata imbasnya parah sehingga sampai sekarang klub masih terlilit hutang yang SANGAT besar. Ini jadi kelemahan utama Milan, bahwa mereka powerless terhadap kebutuhan finansial. Jadi, terjawab sudah respon Milan ke Manchester City di pertengahan musim lalu, dan Madrid pada akhirnya. Meski Kaka enggan, namun manajemen tetap berniat menjual Kaka.

TITIK LEMAH KAKA: AGEN
Diogo Kotscho, agen Kaka awalnya, selalu memancing situasi semenjak calciopoli. Mungkin dia melihat tendensi di atas, di mana situasi finansial Milan tak akan membaik dalam waktu dekat. Ketika tersandung calciopoli, Kotscho "memeras habis" Milan dengan menaikkan gaji Kaka gila-gilaan. Tiap musim meminta gaji baru. Kulminasi Kotscho adalah tawaran Manchester City pertengahan musim lalu, yang karena klub penawar tak sevisi dengan Kaka, maka Kotscho harus kehilangan jabatannya sebagai agen Kaka. Penggantinya, ayah Kaka, Bosco Leite ternyata sama saja, visinya adalah selalu menaikkan gaji klien (dalam hal ini anaknya), plus mengangkat Diogo Leite, adik Kaka dalam bagian proposal.

Yang jelas baik Kotscho maupun Bosco Leite, keduanya jelas tidak sevisi dengan klub dalam hal finansial. Itu menjadi salah satu pembuka tabir mengapa Milan berminat mendatangkan pemain uzur. Jawabnya adalah karena pemain yang mulai fade-out, gajinya relatif tidak akan naik, bahkan bisa diturunkan (gaji Paolo Maldini makin turun dari musim ke musim sejak 2005). Tapi Kaka masih dalam performa meningkat sehingga gaji terus akan menaik. Maklum, karena profesi pemain sepakbola seperti grafik parabola. Jadi permintaan agen, baik Kotscho maupun Bosco Leite cukup wajar. Ketika Milan tidak sanggup memenuhi permintaan, maka Kotscho mulai membuka keran tawaran. Begitu juga dengan Bosco Leite yang tinggal meneruskan misi Kotscho dengan membuka proposal ke Madrid sejak tengah musim lalu.

Namun patut diperhatikan, bahwa tanpa perbaikan serius, Milan hampir pasti akan kehilangan Pato di musim-musim berikut (atau malah musim ini) karena si remaja Brasil tersebut masih di grafik menaik (yang berbanding lurus dengan demand gaji). Maka, sebagai preventif, Milan harus mulai mengawasi manuver para agen pemainnya, bisa dimulai dengan Pato.

GAJI KAKA
Gaji Kaka adalah yang tertinggi di Serie A. Yang jelas, gap antara gaji Kaka dan dibawahnya udah sangat jomplang. Kaka dibayar 900 ribu pounds per bulan, sementara pemain termahal kedua adalah Ronaldinho dengan 450 ribu pounds per bulan. Mungkin ini salah satu pemicu besar, bahwa selama ada Kaka, dan dengan situasi finansial Milan, mereka tak akan bisa membuat ruang gaji pemain baru yang diinginkan. Milan mungkin bisa afford transfer Emmanuel Adebayor, namun ruang gajinya sudah tersedot ke Kaka. Oleh karena itu, selama ada Kaka, Milan akan sulit menawarkan gaji tinggi ke pemain yang diincarnya. Bila Kaka pergi, maka ruang gaji akan membuka lebar.

Persoalan terbukanya ruang gaji ini mungkin satu-satunya nilai positif bagi Milan di tengah kabar kepindahan Kaka. Setidaknya, kesempatan untuk melihat era baru bisa diusung, bila manajemen bertindak benar dengan menggunakan salary cap ini untuk menyusun tim baru.

Namun, Milanisti layak bersedih. Karena mereka mengalami kepindahan ikon mereka akibat kepengurusan organisasi klub yang tidak beres. Kaka adalah pribadi yang layak diidolakan karena fiercely loyal kepada klub, bangsa dan Tuhannya. Kaka bukanlah orang yang disalahkan. Sedari awal dia tegas menyatakan hasratnya mengakhiri karir di Milan. Namun Kaka ternyata tak berdaya melawan sistem persepakbolaan modern yang sangat berorientasi hasil di mana uang sangat menentukan.

Arrivederci Kaka!

So Long, Grasshopper!


Setelah ibu meninggal pada tahun 1990, dunia hanya berputar pada sosok Ayah dan saya, karena kedua kakak saya mulai "mentas" dengan berkuliah di kota lain. Saat itu, salah satu momen perekat antara saya dan Ayah adalah menonton serial favorit beliau, yakni Kung Fu, yang ditayangkan di televisi lokal saat itu.

Petualangan Kwai Cheng Caine menyusuri belantara Amerika di masa Wild West selalu kami ikuti. Serial yang sejatinya dibuat pada era 70-an itu memang cukup beken pada masanya lantaran mulai menggambarkan fantasi tentang benturan peradaban timur dan barat.

Oleh karena itu, saya cukup kaget ketika mendengar berita bahwa pemeran Kwai Cheng Caine, David Carradine, diberitakan meninggal dunia 3 Juni 2009 kemarin. Ia ditemukan tergantung di kamar hotelnya, ketika menjalani proses syuting di Bangkok, Thailand.

Terakhir kali saya elated dengan sang David Carradine adalah melalui film Kill Bill. Kharisma ketenangannya ketika bermain sebagai Kwai Cheng Caine masih membekas, meski saat itu ia berperan sebagai tokoh antagonis.

Menilik peran David Carradine dalam kehidupan pribadi saya, maka rasanya layak saya memberikan sedikit penghormatan melalui notes ini untuk sang Grashopper.

RIP David Carradine.

Testimoni Maldini


Menilik catatan "Maldini San Siro Swan Song Soured", ada satu komentar dari karib saya yang saat ini bermukim di Milan, Rafael, mengenai salah satu kemungkinan kenapa Ultras kurang suka terhadap Paolo Maldini. Ada satu "kasak-kusuk" bahwa di Milan, Maldini dan Seedorf turut mempengaruhi pemilihan pemain yang akan bermain di satu pertandingan.

Di satu sisi, mungkin itu adalah hal yang wajar karena sebagai kapten, tentu dia harus memberikan masukan mengenai pemain kepada pelatih. Itu masih dilakukan dalam koridor yang wajar, mengingat selama 10 tahun lebih kepemimpinannya sebagai kapten, hampir tak ada suara negatif yang menyebutkan bahwa seseorang tersingkir karena Paolo tak menyukainya. Bahkan misalnya dari seorang Roberto Ayala atau Alberto Gilardino sekalipun yang bisa dibilang kurang mengalami masa mengenakkan selama di Milan. Oleh karena itu, rumor itu sebetulnya kurang mempunyai dasar kuat.

Yang ada, justru banjir testimoni yang didapat Maldini, baik dari rekan maupun lawan. Paling mutakhir tentu saja ungkapan pelatih jawara Liga Champions 2009, Josep Guardiola yang mempersembahkan raihan titel ECL kepada si pemilik nomer 3 di Milan. Di samping itu, jelang ujung karirnya, hampir setiap hari banyak pujian kepada Maldini, termasuk 10 testimoni yang disampaikan situs Goal.com (30/5).

Saya sendiri dulu pernah mengkompilasi testimoni tentang Maldini yang diambil dari rubrik "My Perfect XI" majalah sepakbola Inggris, FourFourTwo di blog. Berikut testimonial* untuk Paolo Maldini, yang mengungkapkan sosok de facto kapten Milan tersebut di mata rekan, eks rekan atau lawan.

"Anda harus menjadi pemain yang istimewa untuk bisa tampil secara konsisten dalam jangka waktu yang lama. Tak banyak pemain yang melakukan hal itu untuk sebuah klub besar. Plus, dia juga ganteng. Well, dia seperti telah mendapatkan semuanya. Tak seperti Roberto Carlos, dia bisa bertahan sekaligus menyerang. Dari sisi itu dia lebih unggul." - Ian Wright (Arsenal FC 1991 -1998/Inggris/Penyerang)

"Gampang memilih Paolo dalam daftar ini (My Perfect XI - red), tapi dia betul-betul sang legenda. Jelas bahwa Roberto Carlos juga merupakan pemain yang sangat hebat, tapi Maldini lebih bagus dalam bertahan - dan seperti juga Carlos, dia kadang menyerang dan membantu serangan - seperti yang dilakukannya di final Liga Champions (2005, melawan Liverpool- red)" - Jamie Carragher (Liverpool FC 1996 - sekarang/Inggris/Bek Sentral)

"Saya memilihnya sebagai pemain terbaik sepanjang masa, dan dia masih bermain sampai saat ini yang menunjukkan kapasitas atletisnya. Tak seperti bek sayap lainnya, dia tak hanya berkelas dunia ketika bertahan maupun menyerang - dia bisa melakukan keduanya dibanding bek sayap lain, dan juga seorang bek sentral yang luar biasa." - Ruud Gullit (AC Milan 1987 - 1993/Belanda/Penyerang)

"Paolo adalah salah satu conton pemain sensasional hasil didikan gaya bertahan Italia. Dia sangat elegan di lapangan, sering membantu serangan dan kadang mencetak gol di pertandingan besar untuk AC Milan atau Italia. Dia adalah panutan bagi bek yang muncul belakangan." - Gheorghe Hagi (SK Galatasaray 1996 - 2001/Rumania/Gelandang)

"Tak ada bek sayap lain yang lebih hebat sepanjang sejarah permainan ini. Bisa menggunakan kedua kakinya, dan di masa jayanya sangat aktif membantu serangan. Malam dimana Milan mencukur Barcelona pada final Liga Champions 1994, dia bermain sebagai bek sentral, ketika Franco Baresi dan Alessandro Costacurta terkena hukuman kartu. Tampaknya, dia sudah bermain di posisi itu sepanjang hidupnya." - Ronald Koeman (FC Barcelona 1985 - 1995/Belanda/Bek Sentral)

"Satu lagi legenda, yang masih sanggup bermain sampai saat ini. Sepertinya dia tak pernah bermain jelek. Sangat menyulitkan bermain melawannya, mempunyai umpan yang tak terduga dan kadang juga mencetak gol. Paolo mempunyai fisik luar biasa, dan jelas merupakan panutan. Dia akan dicatat dalam sejarah mungkin sebagai bek kiri terbaik yang pernah ada." - Brian Laudrup (Glasgow Rangers 1994 - 1998/Denmark/Penyerang)

"Maldini tak hanya merupakan pemain bertahan yang luar biasa, namun dia juga bisa memainkan bola dan juga menyerang serta mengirim umpan silang - dia bisa segalanya." - Peter Shilton (Leicester City 1966 - 1974/Inggris/Kiper)

"Salah satu pesepakbola yang paling dihormati sepanjang masa, di dalam dan di luar lapangan. Ia bek yang tangguh, di kiri atau di tengah, dan juga rajin membantu serangan. Pada masa terbaiknya, ia sangat cepat, pengumpan yang hebat bahkan pencetak gol yang lumayan bagus. Maldini bermain di level tinggi bersama AC Milan selama 24 tahun. Itu mengagumkan! Ia juga selalu menyelesaikan masalah di lapangan menggunakan skill, tak pernah menerapkan trik-trik kotor." -Jaap Stam (AC Milan 2003 - 2006/Belanda/Bek Sentral)

Tentang Idola
Itu semua merupakan bukti de facto tentang sosok Maldini. Lantas, siapa pemain yang paling berkesan buat Maldini sepanjang 24 tahun karirnya?

"Diego Maradona adalah lawan yang paling menyulitkan buat saya. Saya sangat kagum padanya. Baik cara bermainnya, caranya mengangkat permainan tim, dan tentu saja skill individunya. Diego adalah mimpi buruk yang selalu membuat saya gelisah pada malam sebelum pertandingan melawan Napoli."

Maldini selalu konsisten menyatakan bahwa Diego adalah lawan yang paling dihormatinya. Statemen paling baru muncul di majalah World Soccer edisi Juni 2009 ini. Dari majalah edisi sama, muncul kembali dua statemen lain yang pernah saya baca juga di tahun 1998.

"Marco Van Basten juga selalu menyulitkan. Untunglah saya hanya dibuat kesulitan olehnya ketika latihan, tanpa sempat menjadi lawan di pertandingan sebenarnya. Namun bila ditanya kepada siapa saya belajar banyak tentang sepakbola, jawabannya adalah Franco Baresi. Dia adalah idola saya sebenarnya, panutan di dalam dan di luar lapangan. Rasanya, Baresi adalah orang yang paling berjasa membuat saya seperti sekarang ini."

Khusus tentang Baresi, ketika memenangkan penghargaan pemain terbaik dunia versi World Soccer di tahun 1994 (adalah kali pertama seorang bek memenangkan penghargaan individu), Paolo mendedikasikan gelar itu untuknya.

"Dia (Baresi) adalah orang yang paling layak mendapatkan gelar ini", ujarnya dalam sambutan seremonial penghargaan tersebut.

Maka, sedikit konyol bila sejumlah tifosi mulai membandingkan dan menyebut Baresi sebagai satu-satunya kapten. Tak perlu diingatkan, Paolo akan selalu menyebut dirinya nomer dua di bawah Baresi. Kerendah-hatiannya itu yang menjadikan dirinya disegani oleh kawan maupun lawan. Saya masih ingat sambungan dari sambutan Maldini dalam penghargaan World Soccer di tahun 1994 tersebut.

"Ini sangat membanggakan. Karena kami, pemain bertahan, biasanya jarang mendapatkan apresiasi dari fans dan media dibanding dengan para pencetak gol. Kami lebih mirip sebagai para pekerja di dalam ruang mesin, ketimbang meraih segala sanjungan."

Bagi para fans dan media mungkin. Namun tidak bagi para kolega, sesama pemain maupun pelatih, atau, katakanlah, orang yang betul-betul mengerti tentang sepakbola.

"Ketika saya berpikir tentang pemain top saat ini, Lionel Messi jawabnya. Meski tak terlalu menakjubkan, namun Kaka juga mengesankan. Zidane juga brilian. Namun jelas bahwa Paolo Maldini adalah favorit saya. Dia adalah pribadi yang mengesankan, mempunyai jiwa kompetitif, dan meski tak terlalu menonjol dari sisi skill, namun karismanya telah mempengaruhi masa-masa jaya Milan." - Sir Alex Ferguson (Manchester United 1986 - sekarang/Skotlandia/Manajer)









*Semua komentar pernah dimuat di majalah FourFourTwo, dan bisa dicek di arsip website FourFourTwo (UK).

Top 10 Calcio Cliches


Josep Guardiola, pelatih Barcelona, usai meraih gelar juara Liga Champions 2008/2009 (27/05) berkata bahwa titel itu didedikasikan untuk sepakbola Italia (dan juga Paolo Maldini). Pep, sapaan Guardiola, pernah berkiprah selama 3 musim di calcio bersama Brescia dan AS Roma saat itu. Jadi, wajar bila Pep bisa lebih menghargai calcio, di tengah arus deras pendapat klise dan skeptis mengenai sepakbola Italia.

Channel 4 merangkum apresiasi minor itu dalam tajuk "Top 10 Calcio Cliches" yang dimuat dalam website-nya, terutama yang berasal dari penggemar Liga Inggris atau orang Inggris sendiri. Channel 4 adalah situs berbasis dan berbahasa Inggris satu-satunya yang meng-cover Liga Italia.

Tadinya akan saya sulih-bahasa ke Indonesia, namun sarkasme dan ironi (nyinyir) khas Inggris yang termuat di dalam bahasa aslinya bisa berkurang. Maka, artikel ini saya kopi dari aslinya. Lagipula, saya tidak bisa memuatnya melalui mekanisme link di Facebook, jadi terpaksa via notes.

Berikut daftarnya:

10. Conspiracy theories
True, Italians love to blame shadowy forces for genuine errors, but the response to Byron Moreno’s refereeing in the 2002 World Cup paled in comparison to Chelsea’s massive strop in the Champions League semi-final. Their exit gained top marks for showmanship and pure entertainment value, especially Didier Drogba’s live swearing into the TV camera and Guus Hiddink’s suggestions that UEFA “didn’t want another all-English Final.” Even Italians thought that was a bit much.

9. Use of the elbow
Giampaolo Pazzini fell victim to this cliché when he accidentally collided with the Republic of Ireland defender John O’Shea’s nose three minutes into a recent World Cup qualifier. Just because an arm connects with a face doesn’t mean it was intentional, even if he is wearing the Azzurri jersey.

8. Fancy hairstyles
The hairband may not have made it all the way across the English Channel yet, but what the Premiership stars lack in length they make up for in effort. It’s really quite difficult to find an Italian football player with as much crude oil, I mean gel, as Cristiano Ronaldo or as ludicrous a barnet as Everton’s Marouane Fellaini.

7. Defending a 1-0 lead
If the last few European tournaments have taught us anything, it’s that Italian teams are really quite bad at defending 1-0 leads. They are positively atrocious at it, in fact, and that alone should discourage them from ever attempting this sort of approach again. It is ironic that the prime purveyors of the 1-0 and defend tactic – Giovanni Trapattoni and Fabio Capello – now manage the nations who complained the most.

6. Diving
It’s remarkable so many Brits still hold the opinion that Italians are divers when they get to watch Didier Drogba, Michael Owen and Steven Gerrard every week in the Premier League. Yet every time there is an Italian team on UK television, the commentators say he “made a meal of it” until they see actual blood pouring from torn flesh. And even then they remain sceptical.

5. Match-fixing
Even if we take the official line on Luciano Moggi’s dealings – which as time goes on seemed more the deluded rantings of a wannabe despot than an actual puppeteer – the tsunami caused by the Calciopoli trial is keeping everyone under the microscope. Each club continues to complain it is being unfairly treated, but they would do that even if the referees were robots programmed to be scientifically impartial. Whiny yes, fixed no.

4. Predictable League
Inter may have killed off the Scudetto race since Calciopoli, but the fact remains the top four changes each year, something that certainly cannot be said of the Premier League. Last season Milan missed out on the Champions League, this time it’s Roma’s turn to sit on the sidelines. UEFA Cup contenders Milan, Napoli, Sampdoria and Udinese all failed to qualify a year later, letting in Genoa, Roma and Lazio.

3. It's boring
It’s a tired statistic, but one that bears repeating: Serie A has in recent years on average more goals per game than the Premier League and Spanish Liga. Get over it. The tempo is certainly slower, but that does not automatically translate into ‘dull.’ It means the ball can be moved around with some accuracy and passes picked out with thought put into them, rather than playing a fast-paced hit and hope game.

2. Gamesmanship
Who is this making substitutions with 30 seconds to go and winding down the clock by trying to keep the ball near the corner flag? Why, it’s Chelsea in the Champions League semi-final against Barcelona! And who got someone sent off for tripping up over his own feet? Step – or rather tumble – forward Nicolas Anelka.

1. Masters of defence
Tell that to Roma, who have conceded a spectacular 59 goals in 37 games. Or indeed Milan, whose back line certainly apply as ‘masters’ in the sense of little wizened old man who teaches a sparky kid how to do kung fu, but can’t actually do any of it himself any more. That’s not to mention Juventus, who regularly field Jonathan Zebina.

"Maldini San Siro Swan Song Soured"


Judul di atas adalah rujukan dari judul berita di situs FIFA.

Sekedar informasi, "soured" di sini mengaca pada dua kejadian, yakni Maldini mengakhiri penampilannya di San Siro dengan kekalahan 2-3 dari AS Roma. Satu lagi adalah insiden "hinaan" dari oknum Curva Sud (tifosi ultras Milan), dengan mengibarkan bendera Franco Baresi seraya meneriakkan yel-yel yang disrespek terhadap Paolo ("There's only one captain, captain Baresi"). Ini sangat menyakitkan, tanpa memandang rendah peran Baresi, karena Maldini telah 13 tahun membawa bebat ban kapten di lengannya bersama kostum Milan. Itu adalah separuh karirnya, selama kurang lebih 25 tahun berkiprah dalam sepakbola, dengan baju selalu merah dan hitam. Rasanya tidak ada yang berhak mendebat kecintaannya kepada AC Milan. Bahkan tidak untuk para ultras.

Lantas, apakah "Swan Song" Maldini menjadi hambar (atau harafiahnya: masam) dengan kejadian itu?

Princeton hanya mengatur definisi frasa "swan song" sebagai "performa atau usaha terakhir, terutama sebelum pensiun" (a final performance or effort especially before retirement). Tidak ada yang mengatur bahwa "swan song" haruslah merdu, lantaran sebetulnya suara angsa sendiri kurang enak didengar (dalam bahasa Jawa disebut "Banyak" karena suara "ngak-ngak"-nya). Bahkan bila merujuk asal frasa "swan song" itu, karir Maldini malah cenderung tak layak disemat sekedar nyanyian angsa. Istilah "swan song" muncul dari sebuah mitos kuno yang meyakini bahwa seekor angsa (Mute Swan, dalam bahasa Inggris, atau Cygnus olor) senantiasa diam (mute) sepanjang hayat, sampai saat jelang mati dengan ia akan menyanyikan sebuah lagu perpisahan.

Well, Paolo tidak hanya diam sepanjang karirnya. 26 titel dia sabet dalam 25 tahun karir dengan standar permainan yang tinggi nan konstan. Ada ribuan pemain lain yang lebih "mute" daripada dirinya, yang mungkin lebih membutuhkan "swan song" di akhir karirnya. Kasus Minggu (24/05) kemarin memang mengecewakan, mengingat itu adalah partai terakhirnya di San Siro dalam karirnya sebagai pesepakbola. Dan kejadian di atas memang membuat momen emosional itu menjadi hambar. Tapi itu tidak sepenuhnya merusak "swan song". Sudah terlampau banyak nyanyi merdu di sepanjang karirnya, dan dirinya tak perlu bernyanyi lagi di akhir (hanya) untuk menunjukkan kapabilitasnya.

Ultras Curva Sud boleh saja bernada sumbang seperti suara angsa. Saya sangat malu dan kecewa mendukung tim yang sama dengan mereka. Dulu, saya merasa mereka adalah bagian dari saluran aspirasi kerinduan saya terhadap "value" sepakbola sebagai olahraga. Representasi anti-modern football yang diteriakkan ultras. Sepakbola sebagai lambang kompetisi, sportivitas dan kebanggaan.

Saya selalu mempersonifikasikan sosok atlit dalam diri Paolo Maldini. Orang yang sportif di dalam dan luar lapangan. Paolo mencintai sepakbola, yang membuatnya bertahan sampai usia 41 tahun bermain di level tertinggi. Sepakbola membalas cintanya dengan sederet gelar. Paolo bangga dengan seragamnya. Sayangnya beberapa gelintir manusia tampak bebal, mencampur politik dengan mengkhianati cinta Maldini ke merah-hitam.

Namun hinaan dari Curva Sud tak ada artinya dibanding dengan apa yang sudah diraih Maldini selama seperempat abad. Milanisti sejati, dan juga penggemar sepakbola umumnya lebih bisa melihat lebih jernih bagaimana sosok Paolo Maldini di AC Milan. Dan juga setidaknya saya bisa melihat lebih jernih lagi bagaimana karakter para ultras di Curva Sud tersebut.

Arrivederci bandiera!